Sabtu, 26 Juli 2014

[Video + Foto] F-16 C/D TNI-AU Tiba di Sarang Naga

Setelah lama dinantikan, akhirnya 3 buah pesawat tempur terbaru TNI-AU, yaitu F-16 C/D Blok 25 upgrade (atau dikenal dengan sebutan F-16 Blok 52 ID) akhirnya menjejakan kaki di sarang naga di Lanud Iswahyudi Madiun. 3 buah pesawat ini mendarat tepat pukul 11:25 setelah menempuh penerbangan melelahkan dari Amerika Serikat.

Penerbangan jarak jauh F-16 canggih ini dipimpin oleh Col. Howard Purcell dengan pesawat bernomer ekor TS-1625. Lalu 2 pesawat lainnya diawaki Maj. Collin Coatney dan Letkol. Firman Dwi Cahyono dengan pesawat TS-1620 serta terakhir Ltc. Erick Housto dan Mayor Anjar Legowo menerbangkan pesawat TS-1623.

Dari sisi avionik, kemampuan F-16 C/D Blok 25 Upgrade itu telah mengalami peningkatan kemampuan signifikan. Dari data yang dimiliki ARC, sejumlah modifikasi itu diantaranya pemasangan Modular Mission Computer, Digital Video Recorder, IDM, dan lainnya. Namun demikian untuk radar tampaknya masih menggunakan standar Blok 25 yaitu APG-68 (V). Itu untuk urusan avionik. Di kokpit sejumlah sentuhan modernisasi juga dilakukan. Diantaranya pemasangan Common Color Multifunction Display, NVIS cockpit dan lainnya. Ditambah pula dengan perangkat bela diri berupa RWR ALR-69, External ECM dan lainnya. Dengan segudang upgrade, kemampuannya diharapkan setara dengan F-16 Blok 52.

Selain itu, sejumlah persenjataan juga diborong, meski dalam jumlah yang tidak terlalu besar. Beberapa diantaranya adalah AIM-9X, AIM-120 C7 AMRAAM, JDAM Kit, hingga JHMCS (joint helmet mounted cueing system). Namun demikian, khusus pengadaan senjata ini masih menunggu persetujuan Pemerintah Amerika Serikat.


semua foto diposkan hiudilangit

  ★ ARC  

Jumat, 25 Juli 2014

Dua KRI Jajaran Koarmabar Berhasil Melaksanakan HAT dan SAT

HAT (Harbour Acceptance Test) dan SAT (Sea Acceptance Test) KRI Clurit-641 dengan Komandan Mayor Laut (P) Bambang Supriyono, S.E. dan KRI Kujang-642 dengan Komandan Mayor Laut (P) Rama Remiear Putra, baru-baru ini di perairan Pulau Lingga, Batam, Kepri, berhasil melaksanakan kegiatan HAT (Harbour Acceptance Test) dan SAT (Sea Acceptance Test) Fire Control System (FCS) Rudal C-705 dan Combat Management System (CMS) Meriam NG-18 6 Barrel kaliber 30 mm.

Rangkaian kegiatan SAT meliputi anti surface real target test, missile anti surface real target test, anti air real target, moving base alignment for missile dan naval gun firing test.

Rudal C-705 yang telah dipasang di kedua KRI memiliki kemampuan surface to surface missile dan surface to land missile dengan jarak jangkau 140 Km.

Rudal tersebut dipersiapkan untuk mengandaskan kapal perang musuh yang berbobot hingga 1.500 ton (Klas Light Corvette) dengan kemampuan daya hancur hingga 95,7%. Dengan demikian ideal untuk menenggelamkan kapal.

Sementara itu Meriam NG-18 6 Barrel kaliber 30 mm berfungsi melindungi kapal dari serangan udara musuh sebagai senjata antirudal.

Meriam NG-18 6 Barrel kaliber 30 mm buatan China tersebut memiliki jarak tembak maksimum 4.000 m dan minimum 500 m. Kedua KRI jajaran Satuan Kapal Cepat Koarmabar ini juga dilengkapi Radar Tracking TR-47C dan Radar Searching SR-47AG.

Kedua radar tersebut memiliki jarak tracking maksimum sasaran udara lebih dari 25 Km, sedangkan target sasaran permukaan lebih dari 8 Km.

Di samping itu, Radar Searching SR-47AG juga memiliki kemampuan deteksi kontak udara lebih dari 40 Km dan deteksi kontak permukaan sebatas jarak pandang cakrawala.

Dengan pemasangan radar sensor tersebut diharapkan dapat mendukung pengoperasian Rudal C-705 dan Meriam NG-18 6 Barrel.

  ★ detik  

[World Article] Israel Terisolasi Karena Serangan ke Gaza

Dewan HAM PBB di Jenewa mulai mengusut kemungkinan kejahatan perang dalam serangan ke Gaza. Kelompok militan Hamas menuntut blokade Gaza diakhiri, jika Israel ingin gencatan senjata. Dewan HAM PBB mengecam keras operasi militer Israel di Jalur Gaza. Dalam sebuah resolusi yang dikeluarkan di Jenewa disebutkan, Dewan "mengecam sekerasnya pelanggaran hak asasi manusia yang luas, sistematis dan berat" yang dilakukan militer Israel.

Selanjutnya disebutkan, serangan atas sasaran-sasaran di Jalur Gaza dilakukan secara sembarangan dan merupakan penghukuman kolektif bagi warga Palestina.

Dalam sidang Dewan HAM di Jenewa hari Rabu (23/07), 29 negara anggota setuju untuk membentuk komisi penyelidikan. Amerika Serikat menolak resolusi itu, sementara 17 negara, diantaranya Jerman dan negara-negara Uni Eropa lain, memberi suara abstain.

Duta Besar Israel di PBB Eviator Manor menjelaskan, Israel punya hak untuk membela diri, seperti negara-negara lain di dunia. Tentara Israel sudah berusaha menghindari korban sipil, namun Hamas melakukan kejahatan perang karena menyembunyikan senjata dan menembakkan roket dari daerah perumahan.

Menurut keterangan pejabat kesehatan Palestina, serangan militer Israel selama dua minggu sudah menewaskan lebih dari 700 warga Palestina.

Di pihak Israel, 32 serdadu dan tiga warga sipil tewas dalam pertempuran dan serangan roket Hamas.

 Hamas ajukan persyaratan 

Militer Israel melanjutkan serangan bom dan artileri ke Jalur Gaza hari Kamis (24/07), sekalipun upaya diplomatik terus dilakukan untuk mencapai gencatan senjata. Menteri Luar Negeri AS John Kerry kembali ke Kairo setelah melakukan pertemuan dengan PM Israel Netanyahu di Yerusalem dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Tepi Barat.

"Kami sudah mencapai beberapa langkah maju, tapi banyak yang masih harus dilakukan", kata Kerry yang beberapa kali bolak-balik di Timur Tengah untuk melakukan pembicaraan dengan banyak pihak.

Pimpinan Hamas Khaled Meshaal mengatakan kepada wartawan di Katar, Hamas akan merundingkan gencatan senjata jika Israel mengakhiri blokade Jalur Gaza. Ia juga menuntut agar dilakukan "gencatan senjata kemanusiaan" selama beberapa jam seperti yang pernah dilaksanakan, untuk membawa korban keluar dari daerah pertempuran.

 Maskapai AS lanjutkan penerbangan 

Otoritas Penerbangan Amerika FAA mencabut larangan terbang ke Israel Rabu (23/07) malam. Setelah meninjau situasi keamanan yang terbaru, larangan penerbangan bisa dicabut, demikian disebutkan.

Beberapa maskapai penerbangan Eropa, seperti Lufthansa dari Jerman, tetap menghentikan penerbangan ke bandar udara Ben Gurion di Tel Aviv atas alasan keamanan. Larangan terbang itu merupakan pukulan besar bagi sektor pariwisata Israel, yang biasanya mengalami puncaknya bulan-bulan liburan ini.

Israel untuk sementara membuka bandar udara militer Ovda di padang pasir Negev untuk penerbangan internasional. Banyak penerbangan Eropa tujuan Israel yang dialihkan ke Siprus, dan penumpang pesawat kemudian pindah ke pesawat-pesawat Israel untuk melanjutkan penerbangan ke daerah tujuan.hp/ap (afp, rtr, dpa)

  ★ dw.de  

EC 120 Colibri Skud 7 Dukung Latihan Tangkis Sergap Kohanudas

Satu Pesawat Helikopter EC 120 Colibri Skadron Udara 7, Lanud Suryadarma dengan Crew Kapten Pnb Rio, Lettu Pnb DJP Hutagalung, Serma Yusuf dan Praka Andrian selesai mendukung latihan Tangkis Sergap Kohanudnas yang digelar Kosek Hanudnas I di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma Jakarta, Kamis (24/7) mendarat kembali di Skadron Udara 7 disambut Komandan Skadron Udara 7, Letkol Pnb Tubagus Hasan.

Latihan tangkis Sergap yang digelar sejak Sabtu (5/7) tersebut diikuti pesawat F-16 Skadron Udara 3 Lanud Iswahyudi, personel Paskhasau dan bersamaan dengan Pengamanan Ibukota.

  ★ TNI AU  

Indonesia commissions first two of three Bung Tomo-class corvettes

Sea Platforms Indonesia's Defence Minister Purnomo Yusgiantoro presided over a commissioning ceremony for the Indonesian Navy's (Tentera Nasional Indonesia - Angkatan Laut: TNI-AL) first two of three Bung Tomo-class corvettes at Barrow-in-Furness, UK, on 18 July.

The 95 m F 2000 vessels, KRI Bung Tomo and KRI John Lie, were originally built by BAE Systems for the Royal Brunei Navy (RBN) under a contract signed in January 1998. However, after a protracted legal dispute, the ships were laid up and offered for sale by the Bruneian government through an affiliate company of L├╝rssen. The vessels were subsequently acquired by Indonesia in January 2013.

The Bung Tomo-class vessels are armed with one Oto Melara 76/62 Super Rapid gun, two MSI-Defence 30 mm guns, and two 324 mm triple-tube torpedo launchers. As built, the ships were also provisioned for eight MBDA MM 40 Block 2 Exocet anti-ship missiles and 16 MBDA VL Seawolf point defence missiles; however, neither weapons system was installed. It is understood that, in TNI-AL service, they will receive eight MM 40 Block 3 Exocet missiles, and 16 MBDA VL Mica point defence missiles.

The vessels' sensor suite includes a Thales 4130C1 hull-mounted sonar, a Kelvin Hughes 1007 I-band surface search radar, and a BAE Systems AWS 9 E/F-band air/surface search radar.

The corvettes can achieve a top speed of 30 kt and are designed for a range of 5,000 n miles at 12 kt.

According to the TNI-AL, Bung Tomo and John Lie are currently in transit to Indonesia, where they are scheduled to be put on display at the TNI-AL base in Surabaya as part of an Indonesian National Armed Forces Day celebration event on 5 October. Upon conclusion of the celebrations, the ships are understood by IHS Jane's to be inducted into the TNI-AL's Eastern Fleet where they are expected to assume offshore patrol duties.

The third vessel in class, KRI Usman Harun, was not commissioned at the ceremony but Indonesian media reports on 21 July quoted TNI-AL officials as saying that its personnel are currently on their way to the UK to bring the ship home. No reason was given as to why Usman Harun was not inducted together with its sister ships at the ceremony and it is unclear as to whether a separate commissioning will be held.

COMMENT

The third vessel in the class, which was not commissioned during the ceremony, caused tensions between Singapore and Indonesia in February 2014 after Singapore's Ministry of Foreign Affairs registered concern about the ship's name.

The corvette is named after Osman (Usman) Haji Mohamed Ali and Harun Said, two members of Indonesia's then marine commandos (known today as the Korps Marinir) who were convicted of participating in the 1965 bombing of MacDonald House in Orchard Road, Singapore, which killed three people. The infiltration had been ordered by then President Sukarno, who opposed the formation of Singapore and Malaysia. Both marines were executed in Singapore in 1968.

Although both countries have agreed to maintain good bilateral ties despite the incident, Singapore has indicated that it would not allow Usman Harun into the country's territorial waters and would forbid the Republic of Singapore Navy (RSN) from participating in any maritime exercises in which the vessel is involved.

It is unclear if the defence minister would similarly preside over Usman Harun's commissioning at a later date. In the case that he does not, it might signal a deliberate attempt by the Indonesians to keep the vessel's induction inconspicuous so as to not stoke further tensions between the two countries.

  ★ IHS Janes  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...