Rabu, 16 April 2014

Negara Maju Pelit Berbagi Ilmu Teknologi Roket

Yogyakarta  Penguasaan teknologi roket Indonesia masih sangat jauh di bawah negara maju, khususnya Eropa.

Oleh sebab itu, Indonesia harus mampu mengembangkan teknologi roket secara mandiri karena negara maju cenderung pelit untuk membagi ilmu mereka.

Kepala Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN Ari Sugeng Budiyanta mengakui teknologi roket tidak mudah untuk dikuasai. “Teknologi peroketan itu teknologi yang sangat tinggi dan sulit. Selain itu, teknologinya sangat tertutup tidak gampang dicari di luar seperti teknologi penerbangan lain. Teknologi roket kurang dibuka oleh negara maju,” kata Ari di sela-sela acara Workshop Kompetisi Muatan Roket dan Roket Indonesia (KOMURINDO) yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa 15 April 2014.

Sehingga, menurutnya, Indonesia harus mampu bangkit sendiri dalam bidang tersebut dengan ahli-ahli dari Indonesia. “Mau tidak mau kita harus bangkit sendiri, sulit untuk mengharapkan negara lain untuk memberikan training bagi negara berkembang seperti Indonesia,” katanya lagi.

Meskipun berat, Ari mengingatkan, penguasaan teknologi sangat penting bagi negara manapun saat ini, tak terkecuali Indonesia. Teknologi roket membuat sebuah negara mampu meluncurkan satelit komunikasi sipil atau untuk kepentingan pertahanan negara.

Namun ia menilai hal itu masih sangat jauh, karena saat ini Indonesia belum mampu meluncurkan satelit secara mandiri dan harus menumpang kepada negara lain.

LAPAN memiliki cita-cita dapat meluncurkan roket pengorbit satelit dan membantu pemenuhan kebutuhan persenjataan TNI. Sehingga, LAPAN mengapresiasi gelaran KOMURINDO dan KOMBAT yang digelar oleh DIKTI di UMY. "Saya berharap kompetisi tersebut dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda, khususnya mahasiswa dalam dunia roket. Sehingga ke depan para calon ahli roket tersebut dapat mempercepat perwujudan cita-cita LAPAN," katanya.

  ★ Vivanews  

Dirgantara Indonesia Targetkan Malaysia Beli Pesawat CN235 MPA RI

Kuala Lumpur Sebanyak 15 perusahaan strategis tanah air baik dari BUMN maupun swasta mengikuti Pameran Defence Service Asia (DSA) 2014 di PWTC, Kuala Lumpur, Malaysia.

Salah satunya PT Dirgantara Indonesia, yang memamerkan pesawat-pesawat hasil kerjasama dengan Airbus Group maupun buatan tanah air.

"Kita memamerkan model CN-235, NC 212i dan N-219," tulis Teguh Graito Manajer Pemasaran PT. DI yang ikut dalam pameran tersebut melalui pesan singkat kepada Liputan6.com, Jakarta Selasa (15/04/2014).

Saat dihubungi terpisah, Adi Prasetyo, Manajer Markom PT Dirgantara Indonesia, berharap dengan kehadiran perusahaannya di pameran DSA bisa menunjukan kebangkitan industri strategis pertahanan Indonesia kepada dunia internasional.

Selain itu, dengan harga bersaing, produk dirgantara RI diharapkan bisa menembus pasar mancanegara, termasuk Malaysia sebagai penyelenggara pameran. Dia berharap Malaysia bakal membeli CN235 MPA milik RI.

"Dalam DSA 2014, tentunya PT. DI melakukan pendekatan untuk rencana TUDM (Tentara Udara Diraja Malaysia) yang berencana untuk pengadaan CN235 MPA hingga 4 unit. Dan, upgrading avionicsnya CN235 menjadi glass cockpit," Imbuh Adi.

Dalam pameran DSA delegasi Indonesia yang ikut serta terdiri dari 5 perusahan BUMN, PT Dahana, PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, PT LEN Industri, PT Dok Kodja Bahari. Sedangkan 10 lainnya merupakan perusahaan swasta yaitu PT Famatex, PT Lundin Industry Invest, PT Saba Wijaya Persada, PT Sari Bahari, PT Palindo Marine, PT Indo Guardika Cipta Kreasi, PT Infoglobal Teknologi Semesta, PT Garda Persada, dan PT Persada Aman Sentosa serta PT Daya Radar Utama.

Pameran DSA 2014 diselenggarakan selama 3 hari hingga dari tanggal 14-17 April dan diikuti sebanyak 1.000 perusahaan dari 50 negara. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsuddin.

  ★ Liputan 6  

Prajurit Cawak MRLF Terima Pembekalan Pangarmatim

Surabaya Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Agung Pramono, S.H., M.Hum memberikan pengarahan dan pembekalan kepada para prajurit Koarmatim yang tergabung dalam Satgas pengambilan kapal perang jenis Multi Role Light Fregatte (MLRF) yang akan didatangkan dari Inggris tahun ini.

Para prajurit strata perwira, bintara dan tamtama yang disiapkan untuk mengawaki kapal perang canggih ini dengan khidmat menyimak pembekalan yang disampaikan orang nomor satu di Koarmatim tersebut di gedung Pusat Latihan Kapal Perang (Puslat Kaprang) Kolatarmatim, siang tadi Selasa (15/4).

Pada acara tersebut, Pangarmatim menekankan kepada para prajurit agar mempersiapkan mental dan fisik serta keluarga yang ditinggalkan, karena mereka akan melaksanakan tugas ini dalam waktu yang cukup lama.

Selain itu, Pangarmatim juga menegaskan agar para prajurit dengan serius melaksanakan pelatihan selama di Inggris sehingga dengan cepat dapat menerima semua pengetahuan tentang armament yang dimiliki kapal perang tersebut.

Sehingga dapat mengawaki peralatan yang berada di kapal perang itu sesuai tugasnya, mulai dari membawa ke Indonesia hingga pelaksanaan operasi selanjutnya.

Sebelumnya, para prajurit pengawak kapal perang jenis MRLF ini telah melaksanakan berbagai pelatihan dan pembekalan tentang fungsi, peran, prosedur, pengoperasian peralatan, baik secara individu maupun terintegrasi bagi para calon pengawak kapal perang ini di Kolatarmatim dibawah tanggung jawab Kesatuan Persiapan Pengambilan Kapal (KPPK) TNI Angkatan Laut yang diresmikan Kasal Laksamana TNI Dr. Marsetio pada bulan Januari lalu.

Sampai dengan saat ini Cawak MRLF yang telah hadir di Inggris belum seluruhnya, baru 3 Kadepsin, 6 ekspert termasuk Kadep Eka dan 9 Key Personel termasuk Komandan KRI Bung Tomo 357, sedangkan sisa Cawak akan berangkat ke Inggris secara bertahap pada gelombang berikutnya.

Diharapkan kehadiran kapal perang jenis MRLF ini melengkapi kekuatan TNI Angkatan Laut dalam waktu dekat yang akan memberikan dampak strategis terhadap kredibilitas Indonesia pada tataran regional maupun global sehingga dapat mengamankan kepentingan nasional Indonesia.

  ★ Koarmatim  

17 Helikopter Black Hawk dan 3 Chinook Segera Perkuat TNI AD

Jakarta Setelah membeli helikopter serang Apache, TNI Angkatan Darat berencana mengakusisi helikopter serbu Black Hawk buatan Sikorsky Aircraft dan Chinook Ch-47 yang dibuat Boeing Rotorcraft Systems dari Amerika Serikat.

Pembelian ini melalui skema kredit ekspor melalui Kementerian Pertahanan.

"Pembelian ini merupakan usulan TNI AD (berdasarkan surat KASAD No. B/455/II/2013)," tulis Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen Andika Perkasa kepada Liputan6.com di Jakarta Selasa (15/4/2014).

Mantan Komandan Korem 023/Kawal Samudera Sibolga ini menambahkan, rencana membeli 2 tipe helikopter ini untuk menambah armada helikopter TNI AD yang masih dirasa kurang. Pembelian ini diperuntukkan pada perencanaan strategis atau Renstra 2015-2019.

"Rencana pembelian helikopter Chinook dan Black Hawk oleh Kementerian Pertahanan adalah Black Hawk sebanyak 17 unit dan Chinook 3 unit," ucap pria murah senyum itu.

Sikorsky UH-60 Black Hawk adalah helikopter serba guna angkut menengah bermesin ganda yang diproduksi oleh Sikorsky Aircraft. Helikopter yang terkenal dalam film "Black Hawk Down" ini dapat mengangkut 11 tentara atau 6 tandu.

Helikopter Black Hawk dapat juga dipersenjatai dengan 2 x GAU-19 gatling senjata, 70 mm (2,75 in) Hydra 70 roket dan AGM-114 Hellfire laser yang dipandu rudal. Dengan mesin 2 x General Electric T700-GE-701C turboshaft, helikopter Black Hawk dapat melaju dengan kecepatan maksimum 159 kt (183 mph, 295 km/jam).

Sedangkan, CH-47 Chinook adalah sebuah helikopter Amerika bermesin ganda, tandem rotor dan heavy-lift buatan Boeing Rotorcraft Systems. Helikopter Chinook dapat memuat 3 kru dan 33 hingga 55 tentara.

Dari data yang didapat Liputan6.com, harga total kedua tipe helikopter Amerika Serikat itu berkisar Rp 3 triliun.(Shinta Sinaga)

  ★ Liputan 6  

[Misteri MH370] Koran Rusia Sebut MH370 Dibajak di Afghanistan

London Intelijen Rusia punya kabar mengejutkan di tengah proses pencarian pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370 di perairan Samudera Hindia. MH370 diyakini sudah dibajak dan berada di Afghanistan. Seluruh penumpang selamat namun menjadi sandera.

Informasi ini dilansir Mirror.co, Minggu (13/4/2014) yang mengutip berita dari koran Rusia, Moskovsky Komsomolets.

Moskovsky Komsomolets menulis, MH370 sudah dibajak oleh teroris dan memaksa pesawat mendaratkan di sekitar Kandahar. Seluruh awak kapal dan penumpang, sebut intelijen masih hidup.

"Pilot tidak bersalah, pesawat itu dibajak oleh teroris yang belum teridentifikasi," tulis sumber koran tersebut sambil menyebut teroris dengan panggilan 'Hitch'.

Penumpang dibagi dalam tujuh kelompok. Mereka dipaksa tinggal digubuk lumpur dengan pasokan makanan yang sangat minim.

Penumpang dari Asia ditempatkan di sebuah bunker di Pakistan. Saat ini proses tawar menawar dengan pemerintah Amerika maupun China masih terjadi.

Berita ini sendiri belum dikonfirmasi dari pemerintah Malaysia atau China.

Sementara itu, operasi pencarian pesawat Malaysia Airlines sendiri masih terus dilanjutkan. Upaya pencarian melibatkan 14 kapal dan 10 pesawat dari berbagai negara.

Untuk pencarian hari ini akan difokuskan pada wilayah pencarian yang total mencapai sekitar 41.393 kilometer persegi. Pusat pencarian berada sekitar 2.331 kilometer barat laut Perth, Australia.

  ♞ detik  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...