Rabu, 01 April 2015

[World] Rusia Gelar Latihan Militer Akbar di Siberia

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan, pihaknya telah memulai latihan militer skala besar di wilayah Siberia, di timur negara mereka. [Sputnik]

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan, pihaknya telah memulai latihan militer skala besar di wilayah Siberia, di timur negara mereka. Latihan ini berfokus pada penguatan pertahanan terhadap serangan udara.

Latihan itu, menurut layanan pers kementerian tersebut, seperti dikutip Sputnik pada Senin (30/3/2015), dilakukan di sebuah wilayah khusus di timur Negeri Beruang Merah itu. "Latihan berlangsung di lapangan tembak khusus di wilayah Primorye dan Buryatia," bunyi laporan layanan pers tersebut.

"Para prajurit akan ditugaskan untuk menembak sekitar 50 sasaran yang telah disiapkan. Untuk melakukan tugasnya, pasukan kami telah dilengkapi sederetan persenjataan, mulai senjata jangkauan pendek seperti Osa, Tor dan Strela-10, sistem anti-pesawat dan senjata lainnya," imbuhnya.

Layanan pers itu juga mengatakan, pihaknya juga akan menggunakan latihan ini untuk menguji beberapa sistem pertahanan udara baru mereka. "Kami juga menguji sistem pertahanan udara jarak jauh, Triumf dan Favorit," tambahnya.

Dalam latihan tersebut, lanjutnya, prajurit Rusia akan ditugaskan untuk melumpuhkan beberapa rudal, mulai dari ukuran kecil hingga besar. Simulasi serangan udara juga akan dilakukan dalam latihan itu.

Namun, layanan pers enggan memberikan detail lebih lanjut mengenai jumlah personel yang akan terlibat dalam latihan perang tersebut, dan jumlah unit persenjataan yang akan dipakai.(esn)

  ♘ sindonews  

[World] Lima Pesawat tempur India Hilang tanpa Jejak

Hilang Tanpa Jejak waktu sedang di upgrade http://cdn2.img.sputniknews.com/images/102021/25/1020212558.jpg[@Sputnik/sergey] ♣

Lima dari 40 pesawat angkut militer An-32 India telah hilang "tanpa jejak" waktu sedang upgrade di Ukraina; Diplomat Ukraina mengatakan pemerintah tidak dapat membantu.

India mengatakan lima dari 40 pesawat angkut militer An-32 telah hilang "tanpa jejak" ketika pesawat sedang mengalami upgrade di Ukraina.

"Kelima pesawat hampir hilang karena sulit untuk melacak mereka dan upaya-upaya diplomatik untuk menemukan keberadaan mereka telah gagal," ungkap situs DefenseNews mengutip seorang pejabat Angkatan Udara India.

Pada tahun 2009, India menandatangani kontrak dengan agen perdagangan senjata milik negara Ukraina, Ukrspetsexport Corp, untuk meng-upgrade 104 pesawat transport An-32 dengan biaya senilai US $ 400 juta, karena armada pesawat ini telah mencapai lifetime nya.

Program upgrade dimulai pada tahun 2011 dan direncanakan akan tuntas tahun 2017.

Berdasarkan kesepakatan itu, modernisasi 40 pesawat tempur harus telah selesai di Ukraina di fasilitas Antonov State Co, sedangkan 64 lainnya ditetapkan untuk ditingkatkan di India, dengan transfer teknologi dari Ukraina.

Upgrade diharapkan untuk memperpanjang lifetime pesawat pengangkut ini untuk 25-40 tahun kedepan dan memodernisasi avionik, kokpit dan peningkatan kapasitas 6,7-7,5 ton.

Namun dari 40 pesawat militer yang dikirim ke Kiev, hanya 35 unit yang kembali ke India homebase.

Sisanya lima telah "hilang tanpa jejak".

Upgrade lokal sisanya 64 An-32s telah dihentikan karena insinyur Ukraina telah kembali dan persediaan suku cadang dihentikan, menurut pejabat Angkatan Udara India.

Seorang diplomat dari Kedutaan Ukraina mengatakan Antonov harus mengatasi masalah ini dengan Angkatan Udara India, dan pemerintah tidak bisa membantu.

Pejabat Antonov sementara ini tidak tersedia untuk berkomentar.[sputnik]
India Bantah 5 An-32 Mereka Hilang di Ukraina http://www.jejaktapak.com/wp-content/uploads/2015/03/an-32-e1427794028908.jpgAn-32 Angkatan Udara India ♣

Kementerian Pertahanan India membantah adanya laporan sejumlah media tentang 5 pesawat transportasi militer India An-32 di Ukraina. Dalam siaran persnya Senin 30 Maret 2015, disebutkan posisi pesawat jelas yakni ada di pabrik Antonov di Ukraina.

”Laporan di bagian media, dimana Pesawat Perang India pergi hilang selama proses upgrade tidak berdasar dan telah dikonfirmasi oleh Angkatan Udara India,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan India.

Menurut lembaga tersebut lima An-32 terakhir yang dikirim untuk upgrade ke Ukraina yang tersedia di pabrik di Ukraina. Bahwa ada penundaan memang benar. Hal ini karena tidak tersedianya komponen yang diperlukan karena perkembangan geopolitik di daerah tersebut terkait konflik di Ukraina.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 5 pesawat AnN-32 India dikabarkan hilang tanpa jejak di Ukraina. Pesawat itu menjadi bagian dari program upgrade yang dilakukan India.[jejaktapak]

  Garuda Militer  

[World] Siap Konfrontasi dengan Rusia, 30 Jet Tempur Inggris Bermanuver

http://cdn.sindonews.net/dyn/620/content/2015/03/30/41/983134/siap-konfrontasi-dengan-rusia-30-jet-tempur-inggris-bermanuver-Heh.jpgInggris pamer kekuatan sebagai bukti mereka siap konfrontasi dengan Rusia. (Reuters)

Lebih dari 30 pesawat jet tempur Angkatan Udara Inggris bermanuver dalam latihan militer besar-besaran. Sumber-sumber militer Inggris mengkonfirmasi, bahwa latihan militer besar-besaran itu untuk menegaskan bahwa Inggris siap konfrontasi dengan Rusia.

”Rusia telah pasti digambarkan sebagai latar belakang dari latihan ini,” kata seorang pejabat di korps Angkatan Udara Inggis kepada The Sunday Express. Media itu mengutip sumber lain di jajaran militer Inggris, bahwa latihan militer puluhan pesawat jet tempur itu untuk menunjukkan kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin, bahwa Inggris siap konfrontasi dengan Rusia.

Dalam latihan itu, pesawat-pesawat jet Tornado melakukan serangan dari Norwegia. Kemudian dicegat tim pesawat jet tempur Typhoon dari beberapa lokasi di Timur Laut Inggris dan Skotlandia.

”Karena komitmen kami untuk terus beroperasi di luar negeri, ini adalah pertama kalinya kami telah memiliki spektrum penuh terkait kemampuan kami,” kata seorang komandan militer Inggris, Andy Coe, seperti dilansir Russia Today, Senin (30/3/2015).

Manuver besar-besaran pesawat jet tempur Inggris ini digelar setelah Rusia bekali-kali mengerahkan pesawat pembom Rusia, Tu-95 di dekat wilayah udara lepas pantai Cornwall. Rusia mengklaim operasi pesawat pembom mereka tidak pernah masuk ke langit Inggris. Rusia juga membela diri, bahwa operasi pesawat pembom mereka berada di wilayah udara internasional.

Menteri Luar Negeri Philip Hammond telah menganggap Rusia bertindak kurang ajar. ”Pesatnya laju Rusia dalam usaha untuk memodernisasi kekuatannya, dan dikombinasikan dengan sikap militer Rusia yang semakin agresif, telah memicu perhatian yang signifikan,” ujarnya beberapa waktu lalu. ”Rusia memiliki potensi untuk menimbulkan ancaman terbesar bagi keamanan kami.”

  sindonews  

TNI tunggu perintah Presiden, selamatkan WNI di Yaman

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)

P
anglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menyatakan masih menunggu perintah Presiden Joko Widodo melalui Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi untuk menyelamatkan Warga Negara Indonesia (WNI) yang terjebak di Yaman yang sedang didera konflik bersenjata.

"Saya sudah sampaikan kepada Menlu bahwa TNI Angkatan Udara telah disiagakan penuh. Menit ini juga bila diminta untuk berangkat ke Yaman, kita siap. Kita tunggu perintah dari Presiden Jokowi melalui Menlu," kata Panglima TNI usai acara Bakti Sosial di sela-sela Latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI 2015 di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Selasa.

Menurut dia, penyelamatan WNI yang terjebak di Yaman sesuai rencana yang telah disusun bahwa WNI yang terjebak di Yaman akan dikeluarkan menggunakan pesawat TNI Angkatan Udara, kemudian akan dijemput dengan menggunakan bus ke pangkalan udara atau ke tempat yang aman, baru kemudian diterbangkan dengan pesawat sipil ke Indonesia.

"Tugas kita menyelamatkan WNI yang ada di Yaman untuk segera diamankan. Baru nanti, menggunakan penerbangan sipil ke Indonesia," tuturnya.

Pemerintah Republik Indonesia bertekad dan terus mengupayakan berbagai cara untuk menyelamatkan WNI yang masih terjebak di Yaman.

"Saya baru bicara dengan Menlu tentang bagaimana mengeluarkan (WNI dari Yaman)," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla kemarin. Menurut Jusuf Kalla, hal yang dibicarakan termasuk melewati jalur apa pemerintah dapat mengeluarkan WNI dari Yaman, baik itu melewati udara, darat, maupun laut, dan kemudian mungkin dikeluarkan melewati Arab Saudi, Oman atau Dubai di negara Uni Emirat Arab.
Tim aju pemulangan WNI telah berangkat Ilustrasi - Salahsatu pesawat Hercules C-130 milik TNI AU yang merupakan bagian dari Skadron 17 Halim Perdanakusuma yang memiliki tugas pokok menyelenggarakan penerbangan bagi presiden dan wapres serta VIP lainnya. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)

T
im aju satuan tugas pemulangan WNI dari Yaman telah berangkat tadi pagi, dengan tugas antara lain menenukan titik kumpul WNI, pangkalan udara atau pelabuhan laut yang akan dipergunakan, dan jalur aman penerbangan atau pelayaran.

Tim aju itu beranggotakan lintas sektoral, di antaranya juga terdiri petugas dari Kementerian Luar Negeri.

“Kami masih menunggu perintah bergerak, skenario penugasan telah disusun dan diuji sebelum diterapkan. Hasil dari tim aju itulah yang akan kami pakai sebagai dasar,” kata Kepala Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto, di Jakarta, Selasa.

Pesawat yang dipergunakan nanti adalah C-130 Hercules, kata dia, maka mereka akan diambil dari Skuadron Udara 31.

“Karena mereka mempunyai C-130H Hercules yang bodinya panjang,” kata Tjahjanto. Dalam batas ideal, C-130H ini mampu menerbangkan 92 personel militer bersenjata perorangan lengkap ditambah cadangan amunisi kompi.

C-130H Hercules Skuadron Udara 31 itu, kata dia, akan diperkuat juga dengan Boeing B-737 serie dari Skuadron Udara VIP 17, yang keduanya berhanggar di Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma.

“Tetapi terbuka juga peluang memakai kapal perang TNI AL jika jumlah WNI yang dipulangkan lebih banyak lagi. Tentu memerhatikan pertimbangan lain sesuai perintah atasan dan pemerintah,” katanya.

“Kota Aden dan Sana’a masih berstatus merah alias berbahaya, maka salah satu skenarionya adalah memberangkatkan WNI itu dari Salalah, Oman,” kata dia. Jarak Aden-Salalah sekitar tujuh hingga delapan jam berkendara darat.

  Antara  

Selasa, 31 Maret 2015

Indonesia Sudah Prediksi Yaman Diserang Saudi

Indonesia memprediksi agresi koalisi Teluk itu setelah Presiden Yaman, Abed Rabbo Mansour Hadi meminta bantun pada negara-negara Teluk. [Reuters]

P
emerintah Indonesia diam-diam sudah bisa memprediksi agresi Arab Saudi dan koalisi Teluk di Yaman untuk memerangi milisi Houthi. Indonesia memprediksi agresi koalisi Teluk itu setelah Presiden Yaman, Abed Rabbo Mansour Hadi meminta bantun pada negara-negara Teluk.

"Sehari sebelumnya, tanggal 24 kita sudah melalukan conference dengan Duta Besar kita di Yaman, waktu itu Presiden Hadi yang di Aden minta intervensi militer, dari gejala itu saja kita sudah khawatir," kata Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri Indonesia, Lalu Muhammad Iqbal, Selasa (31/3/2015).

Menurut Iqbal, pemerintah Indonesia sudah melakukan koordinasi dengan beberapa Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Indonesia (KJRI) di sekitar Yaman untuk bersiap menghadapi situasi terburuk yang mungkin akan menghantam Yaman.

"Kita lakukan persiapan untuk mengantisipasi itu dan bukan hanya di Sanaa, tapi semua KBRI di sekitar Yaman itu kita alert itu, KBRI Oman, Riyadh dan KJRI Jedah. Jadi KBRI di sekitar Yaman sudah siap menghadapi situasi seperti ini," ujar Iqbal.

Dengan situasi di Yaman yang tidak kondusif, pemerintah Indonesia terus mengerahkan usaha ekstra untuk bisa melindungi dan mengevakuasi warga negara Indonesia (WNI) di negara tersebut. Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, kata Iqbal, sudah melakukan koordinasi dengan kementerian terkait lainnya mengenai hal ini.
Tak Ada Tempat Aman di Yaman! [Reuters]

D
irektur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri Indonesia, Lalu Muhammad Iqbal, membeberkan alasan mengapa memilh al-Hudaidah di wilayah timur Yaman sebagai lokasi evakuasi para WNI di Yaman. Menurutnya, wilayah timur di Yaman tidak segenting di pusat atau selatan Yaman.

"Jadi, tidak ada tempat yang 100 persen aman di Yaman saat ini! Tapi, ada tempat ada tempat yang setidaknya lebih aman dibanding tempat yang lain. Al-Hudaidah ini relatif lebih aman dan airport-nya juga masih berfungsi, tapi tidak ada penerbangan," kata Iqbal kepada wartawan di bilangan Cikini, Jakarta, Selasa (31/3/2015).

"Saat ini sekitar 200 WNI yang sudah dievakuasi ke al-Hudaidah, karena Al-Hudaidah ini relatif stabil. Dari 200 orang itu, 130 di antaranya dibawa dari Sanaa dan sisanya dibawa dari beberapa kota di sekitar al-Hudaidah," imbuh dia.

Iqbal mengatakan, pemerintah Indonesia sedang membahas opsi-opsi yang akan dipakai untuk mengevakusi WNI yang berada di al-Hudaidah. "Hari ini akan diputuskan, apakah evakuasi akan dilakukan lewat darat atau udara," katanya.

Salah satu opsi yang dibahas adalah para WNI tersebut akan dijemput oleh pesawat milik TNI-AU ke negara tetangga, yakni Oman dan Arab Saudi. Setelah dibawa ke negara tetangga Yaman itu, para WNI itu akan dipulangkan dengan menggunakan pesawat komersial.
Kemlu Bantah Ada WNI Ditahan Houthi di Yaman Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kemlu, Lalu Muhammad Iqbal. [Victor Maulana/SIndonews]

K
ementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia membantah laporan adanya warga negara Indonesia (WNI) yang ditahan oleh milisi oposisi Houthi di Yaman. Menurut Kemlu, para WNI itu ditahan oleh otoritas pemerintah Yaman, bukan milisi Houthi.

"Kemarin ada spekulasi bahwa WNI, pelajar kita yang ditahan Houthi. Tapi, saya sudah sampaikan beberapa kali bahwa itu tidak benar," ucap Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kemlu, Lalu Muhammad Iqbal, Selasa (31/3/2015).

Iqbal menegaskan para WNI yang ditahan adalah para pelajar. Mereka ditahan oleh otoritas imigrasi Yaman, karena masalah izin tinggal. Mereka diduga ditangkap ketika sedang melakukan perjalanan ke Sanaa untuk mengurus perpanjangan izin tinggal di Yaman.

"Mereka memang berasal dari luar Sanaa, tapi karena tidak ada izin tinggal, jadi mereka menginap di beberapa masjid. Jadi, karena alasan izin tinggal itu mereka ditahan," ujarnya.

Tim Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) Sanaa, lanjut Iqbal, sudah melakukan usaha terbaik untuk membebaskan 23 orang WNI yang sebelumnya ditahan otoritas imigrasi Yaman. Dari usaha itu, awalnya delapan orang sudah dibebaskan. Tapi, saat ini KBRI Sanaa mengkonfirmasi sudah berhasil membebaskan semua pelajar Indonesia yang ditahan di Yaman.

"Alhamdulillah dalam dua hari, 21 orang sudah dapat kita bebaskan semua, jadi total 23 sudah bebas. Ditambah satu orang orang lagi. Kita ketemu di salah satu penjara, ternyata ada TKI yang juga dibebaskan. Masalahnya sama, karena soal imigrasi. Semuanya WNI itu sudah berada di KBRI," kata Iqbal.(esn)

  sindonews  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...