Kamis, 30 Maret 2017

TNI AU Upgrade 4 Sukhoi dan 4 Boeing 737

Modernisasi alutsistaKadispen TNI meninjau tiga satuan di Lanud Makassar. (Ibnu/detikcom)]

Dinas Penerangan (Dispen) TNI Angkatan Udara melakukan kunjungan ke Makassar, Sulawesi Selatan. Kunjungan tersebut untuk melihat kesiapan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AU di Pangkalan Udara Hasanuddin, Makassar.

Kunjungan di Lanud Hasanuddin, Makassar, Rabu (29/3/2017) itu langsung dipimpin oleh Kepala Dispen TNI AU Marsekal Pertama Jemi Trisonjaya. Rombongan Dispen AU melihat kesiapan tiga satuan, yakni Skadron 11 dan Skadron 5 dan Detasemen Pertahanan Udara 472 Sultan Hasanuddin.

Kunjungan pertama dilakukan di Skadron 11. Rombongan dipandu oleh Mayor (Penerbang) Setyo Budi. Skadron 11 saat ini memiliki total 16 pesawat Sukhoi yang terdiri atas Sukhoi 27 SK dan Sukhoi 30 SK.

"Di Skadron 11, kita saat ini punya 16 pesawat Sukhoi," jelas Setyo.

Kadispen TNI meninjau 3 satuan di Lanud Makassar.Kadispen TNI meninjau 3 satuan di Lanud Makassar.Kadispen TNI meninjau tiga satuan di Lanud Makassar. (Ibnu/detikcom)

Namun beberapa pesawat Sukhoi tersebut sedang tidak berada di Lanud Hasanuddin. Hanya ada empat pesawat yang berada di Skadron 11 Sultan Hasanuddin.

"Ada 2 yang standby jenis Sukhoi 27 SK, 2 pesawat sedang ada di Skadron teknik, 4 pesawat lagi perawatan tingkat besar atau di-upgrade di Belarus dan 8 pesawat kita move ke Madiun untuk persiapan HUT TNI AU tanggal 9 April," ujarnya.

Setyo menambahkan kegiatan dari Skadron 11 selama ini adalah melakukan pengamanan di pulau terluar Indonesia. "Kita sering operasi di Kupang, Jayapura, dan Tarakan," imbuhnya.

Setelah dari Skadron 11, rombongan menuju ke Skadron 5 Intai Strategis. Kunjungan di Skadron 5 dipandu oleh Komandan Skadron 5 Letkol (Penerbang) Akal Juang. Skadron 5 Intai Strategis memiliki 4 Pesawat Boeing 737-200 Intai dan 1 CN 235 NP.

"Di Skadron 5 ini kami memiliki tugas untuk pengintaian, baik dari udara, laut, maupun darat," kata Akal Juang.

Melihat Alutsista TNI AU di Lanud Makassar[Ibnu/detikcom]

Menurutnya, setiap pesawat yang ada Skadron 5 dilengkapi radar dan kamera yang mampu mengambil data dari ketinggian 3.500 feet. Saat ini pesawat-pesawat tersebut sedang diperbarui sistemnya.

"Sekarang lagi dilakukan pembaruan kamera. Kamera kita ganti dengan yang baru dari Kanada. Dan mission system kita lagi upgrade. Dengan spesifikasi yang baru, nanti diharapkan bisa maksimal dalam tugas pengintaian dan pengamatan maritim," tambahnya.

Juang menambahkan pesawat intai strategis saat ini hanya ada di Lanud Hasanuddin. "Saat ini hanya ada di Makassar untuk pesawat intai," imbuhnya.

Kunjungan berakhir di Detasemen Pertahanan Udara Paskhas 472 Sultan Hasanuddin. Denhanud 472 dilengkapi 2 set persenjataan pertahanan titik.

Komandan Denhanud 472 Mayor (Pasukan) Verial T menjelaskan 1 set terdiri atas 2 meriam jarak jangkau efektif 5 kilometer buatan Swiss, command pos untuk operator radar, dan 2 truk pengangkut dan sejumlah rudal Chiron buatan Korea Selatan dan QW-3 buatan China.

"Sebenarnya persenjataan ini permanen, tapi situasional kita akan geser sesuai pemintaan dari atasan," kata Verial T. (ibh/idh)

  detik  

[Video] LIMA 2017 International Fleet Review

During LIMA 2017, the Langkawi International Maritime And Aerospace Exhibition held in Malaysia, Malaysian Minister of Defence Mr. Hishammuddin Hussein and Chief of Navy Admiral Kamarul witnessed with their guests the fleet review of LIMA 2017. Navy Recognition had the chance to get aboard the vessel, KD Perantau, to experience the impressive event with over 40 vessels! Here is video coverage of the LIMA Fleet Review!


  Youtube  

Menhan RI Terima Kunjungan Kehormatan Menhan Perancis

Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu menerima kunjungan kehormatan Menteri Pertahanan Republik Perancis Jean-Yves Le Drian. Kunjungan didahului dengan Upacara Jajar Kehormatan di Depan Gedung Soedirman Kemhan, Jakarta, Rabu (29/3).

Melalui kunjungan yang dilakukan di sela-sela mendampingi Perancis Francois Hollande dalam rangkaian kunjungan ke Indonesia, diharapkan akan semakin mempererat dan meningkatkan hubungan kerja sama di bidang pertahanan antara kedua negara yang telah berjalan baik selama ini.

Sebagaimana kesepakatan yang telah dicapai oleh kedua negara melalui penandatanangan Letter of Intent (LoI) tentang Peningkatan Kerja Sama Pertahanan oleh Menhan RI dan Menhan Perancis dengan disaksikan oleh Presiden RI Joko Widodo bersama Presiden Perancis Francois Hollande di Istana Negara, Jakarta, sesaat sebelum kunjungan kehormatan ini.

Dalam kesempatan tersebut, Menhan RI menyampaikan tentang pentingnya hubungan kerjasama pertahanan Indonesia dan Perancis. Untuk itu, kesepakatan yang telah dicapai dalam LoI tentang Peningkatan Kerja Sama Pertahanan diharapkan dapat segera direalisasikan.

Dengan telah ditandatanganinya LoI tersebut, menurut Menhan RI maka kerja sama pertahanan kedua negara dapat terus ditingkatkan di berbagai bidang mulai dari kerjasama di bidang pendidikan dan latihan, latihan bersama dan pasukan pemeliharaan perdamaian dunia.

Selanjutnya di bidang lainnya adalah kerja sama di bidang keamanan maritim, penanggulangan terorisme dan pertukaran informasi intelijen serta kerja sama di bidang industri pertahanan. “Tidak kalah penting adalah dalam kerjasama di bidang industri pertahanan, sehingga Indonesia bisa belajar banyak dari Perancis”, ungkap Menhan RI.

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Menhan RI, Menhan Perancis menyampaikan bahwa Perancis juga memandang pentingnya apa yang telah disepakati kedua negara dalam LoI tentang Peningkatan Kerja Sama Pertahanan tersebut, sehingga perlu untuk segera dapat direalisasikan.

Diungkapkannya, Perancis ingin lebih meningkatkan dan memperluas hubungan kerja sama pertahanan dengan Indonesia yaitu kerjasama yang saling menguntungkan bagi kedua pihak, sehingga kedua negara menjadi partner yang utama.

Menurutnya, kerja sama di bidang pendidikan dan pelatihan serta kerjasama industri pertahanan sudah dilakukan oleh kedua negara, namun demikian perlu ditingkatkan lagi. Perancis siap meningkatkan kerja sama dalam bidang industri pertahanan dengan prinsip – prinsip kerjasama yaitu transfer teknologi, mitra industri, transparasi total dan saling percaya.

Selain di bidang industri pertahanan, Menhan Perancis juga menyampaikan pentingnya kedua negara meningkatkan kerjasama di bidang penanggulangan terorisme yang merupakan ancaman bersama, terutama kerja sama dan berbagi pengalaman dalam hal kegiatan deradikalisasi.

Perancis sangat mengapreasiasi tehadap langkah dan kebijakan Kemhan RI, yang salah satunya dilakukan melalui program Bela Negara dan mengakui hasil yang dicapai atas program tersebut. Untuk itu, Perancis berharap dapat belajar banyak dari pengalaman Indonesia terkait kegiatan deradikalisasi. “Pengalaman Indonesia dalam hal ini akan sangat berguna bagi Perancis”, ungkapnya. (BDI/RAF)

  Kemhan  

[World] Myanmar MiG-29 Upgrade Revealed

✈️ Will Malaysia Follow?✈️ A MiG-29 of the Royal Malaysian Air Force (RMAF) takes off at the LIMA airshow in 2013. [Vladimir Karnozov]

Ten MiG-29 fighters belonging to the Myanmar air force have been upgraded at RAC MiG facilities near Moscow, a source in the Russian delegation at the Langkawi International Maritime and Aerospace (LIMA) 2017 show in Malaysia last week told AIN. Moscow is now offering similar upgrades to Malaysia, which acquired 18 in 1994, and to Bangladesh, which procured 10 MiG-29s at the turn of the century.

The upgrade solution for Myanmar is referred to as MiG-29SM (mod.). It is believed to be a low-cost version compared to the more expensive MiG-29UPG that India has been doing, and which is broadly similar to the Russian air force MiG-29SMT. Details about the MiG-29SM (mod.) are yet to emerge, but it apparently keeps the original N-019E radar, albeit with some technology insertions and part replacements.

Among other things, a cross-fleet upgrade would bring the Myanmar aircraft to a single standard. In 2001 that country signed for 10 MiG-29 single-seat fighters and two MiG-29UB operational trainers. In December 2009, Myanmar awarded RAC MiG a follow-on order for 10 more MiG-29s (“Fulcrum-B”) plus six more advanced MiG-29SEs and four operational trainers. Shipments under the second order took place in late 2011-early 2012, with the last pair of two-seaters arriving in March 2013. This brought the Myanmar Fulcrum fleet to 32 aircraft. RAC MiG’s offer was to upgrade the whole fleet of single-seaters to a common standard.

The Royal Malaysian Air Force (RMAF) ordered 16 MiG-29N and two MiG-29UB-N aircraft in 1994 and received them in 1995-1996. The “N” version was a customized RMAF variant, with mid-air refueling capability (taking fuel from specially converted C-130 Hercules transports), and the ability to fire two RVV-AE radar-guided missiles (export version of the Vympel R-77) at two aerial targets simultaneously. After the loss of two MiGs in incidents in 1998 and 2004, the RMAF possesses 14 airframes, of which 10 are believed to remain operational with No. 17 Squadron at Kuantan AFB. Since 2010, the RMAF has said several times that it would withdraw the MiG-29s from service, but they continue flying.

At LIMA2015, RAC MiG and its local partner ATSC proposed to the Malaysian Ministry of Defence an upgrade to the MiG-29NM standard. This would have been similar to the Indian air force MiG-29UPG, involving the replacement of the N-019E radar with more advanced Zhuk-ME (model FGM-229). The upgrade would also have enabled the MiGs to carry the same guided and unguided munitions as the RMAF’s Su-30MKMs.

But members of the Russian delegation at LIMA told AIN that Malaysia refused this rather costly modernization, forcing RAC MiG to come up with a less expensive option modeled on the Myanmar upgrade. Earlier this year, RAC MiG brought in a MiG-29SM (mod.) full-flight simulator to a base in Malaysia for technology demonstration purposes.

RAC MiG continues working with local companies involved in MiG-29N maintenance and support. As such, ATSC has gained access to the RMAF airframes and produced a fleet report. It describes the surviving hardware as remaining in good condition, making lifetime extensions and upgrade options viable. Few airframes have exceeded 2,000 flight hours, and their maker has offered a lifetime extension to 6,000 hours and 40 calendar years.

Speaking to AIN at LIMA2017, RMAF chief Gen. Affendi bin Buang said that although the MiGs are still operational, their age causes “a gap in capability.” Advancements in technologies, especially sensor fusion and weaponry, force RMAF to consider options available for future MiG-29 operations. The basic aircraft is sturdy and robust, he said, “but there are certain systems in the MiG-29 that we wish to replace or upgrade in order to enhance the aircraft’s operational capacity.

At the moment we are still awaiting a government decision whether to continue the operation of the MiG-29 or to stop it,” Affendi continued. He has been briefed by his counterparts from India and Myanmar on what they have done to their MiGs. “In my view, the additional capability that [RAC MiG] is putting into these aircraft during their update is quite impressive. This make me feel confident that these aging but still maintainable aircraft have some life in the future.

  ✈️ Ainonline  

[RIP] Paus Sindir Serangan AS

Yang Tewaskan Ratusan Warga MosulSalah satu bagian di Universitas Mosul pasca-pengeboman dan serangan tentara Irak dibantu pasukan Syiah dan Kurdi, serta Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) untuk melumpuhkan ISIS yang menduduki Kota Mosul, Jumat (13/1/2017). [twitter.com/@iraqnews]

Paus Fransiskus pada Rabu mengatakan bahwa "wajib" hukumnya untuk melindungi warga sipil di Irak.

Paus menyatakan hal tersebut tidak lama setelah terdengar kabar bahwa serangan pesawat udara Amerika Serikat di Mosul telah menewaskan ratusan orang di kota terbesar kedua Irak tersebut, lapor Reuters.

Saat berpidato di depan puluhan ribu orang yang berkumpul di Alun-Alun Santo Petrus, Paus mengatakan bahwa dia "sangat prihatin terhadap nasib para warga sipil yang terjebak di pemukiman Mosul bagian barat."

Dia meminta semua pihak "berkomitmen untuk melindungi warga sipil, yang merupakan kewajiban yang harus dijalankan."

Pasukan Irak, dengan bantuan pesawat tempur Amerika Serikat, kini tengah melancarkan operasi pembebasan kota Mosul dari penguasaan kelompok bersenjata ISIS.

Pernyataan Paus muncul satu hari setelah seorang komandan senior Amerika Serikat mengakui bahwa pesawat tempur dari pihaknya telah menjatuhkan bom di pemukiman padat penduduk di Mosul bagian barat pada 17 Maret lalu.

Serangan pesawat udara itu diduga mengenai sebuah truk berisi bahan peledak sehingga kerusakan yang ditimbulkan sangat besar.

Insiden yang sama diduga menewaskan lebih dari 200 orang.

Organisasi pembela hak asasi manusia, Amnesti Internasional, mengatakan bahwa tingginya korban tewas dari kalangan sipil di Mosul menunjukkan bahwa pasukan koalisi Amerika Serikat telah sembrono sehingga tidak bisa mencegah kematian dari non-kombatan.

PBB sendiri mengatakan bahwa 307 warga sipil telah tewas sementara 273 lainnya menderita luka sejak 17 Februari lalu. Mereka menduga bahwa ISIS dengan sengaja mengumpulkan para warga di sejumlah bangunan dan menjadikan mereka sebagai tameng. ISIS juga dituding sering menembaki warga yang hendak melarikan diri.


  ★ antara  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...