Minggu, 24 Agustus 2014

[World Article] Singapura Menambah Armada F15 SG

Dari 24 menjadi 40 unit Penampakan F15 SG bersama Sukhoi TNI AU (Kaskus)

Singapura tampaknya diam-diam meningkatkan jumlah armada jet tempur F-15SG nya, dari 24 pesawat menjadi 40 unit, merujuk pada laporan keuangan Boeing, pengajuan pendaftaran pesawat udara, dan laporan kongres AS.

Singapura awalnya membeli 12 jet tempur F-15SGs – dengan opsi untuk delapan lainnya – di bawah kontrak ditandatangani pada bulan Desember 2005. Pada bulan Oktober 2007 Singapura mengubah opsi ini dengan membeli tambahan 12 lainnya untuk pembelian total 24 unit.

Pesawat ini semuanya telah terkonfirmasi dan telah disampaikan untuk nomor seri 05-0001 sampai 05-0024. Beberapa pesawat tetap berada di Amerika Serikat, bergabung dalam skadron 428 Fighter, Republik Singapura Air Force (RSAF) di Mountain Home Air Force Base (AFB) di barat daya Idaho, sementara sisanya aktif di Singapura tergabung dengan Skadron 149.

Pesawat yang beroperasi di Singapura menggunakan nomor seri empat digit diurutan 83xx, mulai dari 8301, meski tidak berurutan.

Pada bulan Januari 2014, beberapa pesawat dengan nomor seri baru -05-0025, 05-0028, 05-0030, 05-0031, dan 05-0032- terlihat di Mountain Home AFB. Keberadaanya ini belum dilaporkan dan menunjukkan bahwa Singapura telah memperoleh batch lain dari delapan pesawat.

Sementara itu, tanggal 26 November 2012, surat dari Departemen Luar Negeri AS untuk Juru Bicara DPR John Boehner yang membawahi Undang-Undang Pengendalian Ekspor Senjata, menunjukkan adanya penjualan, modifikasi, dan tindak dukungan terhadap delapan pesawat F-15SG kepada Pemerintah Singapura.

Angka yang dikeluarkan oleh Boeing menunjukkan bahwa delapan F-15s dikirim ke pelanggan yang tidak disebutkan identitasnya, pada tahun 2012.

Data keuangan Boeing juga menunjukkan bahwa total ada 93 jet tempur F-15 dikirim dari tahun 2005 sampai 2012. Korea Selatan telah mengkonfirmasi bahwa mereka menerima 61 unit dan Singapura menerima 24 unit dengan total 85. Jumlahnya meninggalkan 8 unit yang belum diungkap ke publik.

Akhirnya, pada tanggal 5-6 Agustus 2014, Boeing mengeluarkan pendaftaran pesawat udara sipil, yang dijelaskan sebagai pesawat F-15SG : N361SG, N363SG, N366SG, N368SG, N373SG, N376SG, N378SG dan N837SG.

Boeing maupun Kementerian Pertahanan Singapura (MINDEF) belum angkat bicara atau mengkonfirmasi, apakah negara kota telah mengakuisisi 16 lainnya jet tempur F-15s dari pembelian sebelumnya. Boeing dan Singapura juga tidak menyangkal hal itu.

Seorang juru bicara Boeing mengatakan kepada IHS Jane bahwa perusahaan itu “tidak dapat membahas” jumlah F-15s yang telah diserahkan ke Singapura, sementara juru bicara MINDEF mengatakan: “Angkatan Bersenjata Singapura (SAF) mendatangkan alutsista untuk kebutuhan jangka panjang dan RSAF telah membeli F-15SGs dengan jumlah yang cukup, untuk memenuhi kebutuhan pertahanan Singapura”.

 Analisa 

Keengganan Singapura untuk mengungkap pembelian F-15 tambahan. tidak mengejutkan: Singapura tidak ingin menguraikan tingkat pengadaan pertahanan dan kemampuan mereka dan memilih untuk secara diam-diam membangun apa yang secara luas dilihat sebagai militer yang dilengkapi alat terbaik di Asia Tenggara.

Salah satu petugas pensiunan angkatan bersenjata mengatakan IHS Jane bahwa sikap tersebut adalah keputusan strategis untuk menjaga tetangga Singapura menebak jumlah alutsista mereka dan juga karena para pemimpin Singapura tidak perlu menggunakan pengadaan militer sebagai penopang popularitas.

Penolakan untuk mengkonfirmasi akusisi alutsista terkadang terlihat aneh dan bertolak belakang dengan perkembangan industri Militer dan Pertahanan, seperti pada Singapore Airshow 2012, ketika itu para pejabat Israel tidak mau mengkonfirmasi penjualan UAV Heron ke Singapura, meskipun salah satunya ditampilkan Singapura dalam “static display”, dari berbagai alutsista mereka.


  ★ Janes  

Sabtu, 23 Agustus 2014

14 KRI meriahkan puncak Sail Raja Ampat

14 KRI meriahkan puncak Sail Raja AmpatParade kapal perang saat pembukaan acara puncak Sail Raja Ampat 2014 di Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), Raja Ampat, Papua Barat, Sabtu (23/8). Acara puncak Sail Raja Ampat 2014 yang dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut dimeriahkan dengan atraksi terjun payung, parade Kapal Perang dan sejumlah tarian tradisional. (ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo)

Sebanyak 14 Kapal Republik Indonesia (KRI) dari Komando Armada Laut Timur ikut memeriahkan acara puncak Sail Raja Ampat 2014 di Pantai Waisai Torang Cinta (WTC) yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Sabtu.

Kapal-kapal perang milik TNI Angkatan Laut itu memimpin parade sailing pass, disaksikan Presiden Yudhoyono, sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, tamu undangan dan masyarakat Raja Ampat.

KRI yang mengikuti sailing pass antara lain KRI Ahmad Yani, KRI Yos Sudarso, KRI Sultan Hasanuddin, KRI Keris, KRI Rencong, KRI Kakap, KRI Tongkol, KRI Sampari, KRI Sembilang, KRI Pari, KRI Piton, KRI Kalakai, KRI dr Suharso dan KRI Surabaya.

Selain KRI, sailing pass juga diikuti beberapa kapal lain seperti Kapal SAR milik Basarnas, KM Singa Laut dan KM Kuda Laut milik Bakorkamla, KP Cucak Rawa milik Polair, KM Sabuk Nusantara milik Dirjen Hubla dan beberapa kapal lain, serta kapal perang dari Angkatan Laut Amerika Serikat, Australia dan Singapura.

Dalam sambutannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengucapkan terima kasih kepada para peserta dan negara-negara sahabat yang hadir dalam Sail Raja Ampat 2014.

"Indonesia Indah, Papua Indah. Silakan datang lagi," kata Presiden Yudhoyono.

Presiden mengatakan dengan Sail Raja Ampat Indonesia ingin mengampanyekan semangat persatuan sebagai warga dunia dan penghuni bumi, serta keamanan dunia.

Sail Raja Ampat 2014 akan menjadi acara tahunan Sail Indonesia yang keenam sekaligus terakhir yang dibuka oleh Presiden Yudhoyono sebelum mengakhiri masa jabatannya Oktober mendatang.

Sebelumnya, Presiden Yudhoyono membuka Sail Bunaken 2009, Sail Banda 2010, Sail Wakatobi-Belitong 2011, Sail Morotai 2012 dan Sail Komodo 2013.


  ★ Antara  

TNI AU Selesaikan Latma Elang Malindo XXV

Pesawat Hawk 100/200 dari Skadron Udara 1 berhasil menyelesaikan latihan bersama Elang Malindo XXV yang dipimpin langsung oleh Komandan Skadron Udara 1 Letkol Pnb Sidiq.

Kembalinya para ksatria khatulistiwa di Skadron Udara 1, (22/8) disambut langsung oleh Komandan Lanud Supadio Kolonel Pnb Tedi Rizalihadi, ST, Kadispers Lanud Supadio, Kadislog Lanud Supadio beserta para pejabat di lingkungan Lanud Supadio dan seluruh anggota Skadron Udara 1.

Dalam kesempatan tersebut Danlanud juga menyampaikan rasa syukur dan terimakasih kepada seluruh awak yang bisa menyelesaikan latihan dengan baik terlebih semua bisa kembali dengan selamat dengan membawa nama baik bangsa Indonesia.

Selain itu banyak manfaat yang didapat dengan adanya latihan – latihan semacam ini, selain bisa menjadi nilai lebih untuk meningkatkan kemampuan personel juga lebih mempererat hubungan dan kerja sama antara kedua Negara yang sudah lama terjalin.

Dalam latihan tersebut dilaksanakan berbagai latihan, mulai dari pesawat Super Puma NAS 332 melaksanakan droping pasukan ke Penor dilanjutkan delapan pesawat Hawk 100/200 TNI AU dan TUDM melaksanakan pengeboman di wilayah Penor. Setelah kegiatan tersebut dilanjutkan CN 295 mendroping 10 personel yang terdiri dari Paskhas TNI AU dan Paskau TUDM.


  ★ TNI AU  

Pindad dan Rheinmetall Akan Bangun Pabrik Amunisi Tank

Guna memenuhi permintaan sejumlah negara di wilayah Asia Pasifik. Sebanyak 24 tank Leopard saat akan dikirim ke IndonesiaSebanyak 24 tank Leopard saat akan dikirim ke Indonesia

Rheinmetall Denel Munition (RDM) dan PT Pindad menandatangani sebuah perjanjian kerja sama (memorandum of understanding/MoU), guna membangun kemampuan industri pertahanan dalam negeri.

Rheinmetall dan PT Pindad membentuk sebuah joint venture (usaha patungan) pada 2015, dengan fasilias di atas lahan seluas 168 hektare di daerah Malang, Jawa Timur, untuk mengembangkan pabrik amunisi kaliber besar.

Pabrik ini akan memproduksi amunisi tank Leopard dalam kisaran 30 hingga 105 milimeter yang diperuntukkan bagi TNI dan untuk memenuhi permintaan sejumlah negara di wilayah Asia Pasifik.

Harald Westermann, Direktur Rheinmetall Landsystem GmbH, mengatakan bahwa Rheinmetall tertarik melakukan kerja sama jangka panjang dengan Indonesia, guna meningkatkan teknik industri pertahanan dalam negeri.

"Indonesia merupakan pasar strategis bagi kami di masa mendatang. Kami akan men-support tank buatan kami selama 25 hingga 30 tahun. Bila pihak Indonesia meminta support lebih lama lagi, tentu akan kami lakukan," ujarnya.

Saat upacara rollout MBT Leopard dan Marder di Unterluss Jerman, beberapa waktu lalu, Direktur PT Pindad Sudirman Said, menegaskan bahwa yang sifatnya jangka panjang, Pindad juga akan mengembangakn produk lokal lain bersama Rheinmetall.

Sementara itu, terkait dengan pengadaan 180 unit tank Leopard dan Marder, produk Rheinmetall, Pindad juga dilibatkan dalam pemasangan sejumlah bagian tank. Seperti sistem komunikasi dan sistem pendingin. Hal ini merupakan keuntungan tersendiri sebagai transfer teknologi.

Seperti diketahui, sebanyak 52 tank yang terdiri dari 24 MBT Leopard A4 dan 28 Tank Marder, sudah diberangkatkan sejak 31 Juli 2014 lalu dengan kapal kargo berbendera Panama, Morning Celesta, dari pelabuhan Bremenhaven, Jerman.

Tank-tank itu dijadwalkan tiba di pelabuhan Tanjung Priok pada 28 Agustus 2014. Rencananya, setibanya di pelabuhan Tanjung Priok, tank-tank ini akan dipindahkan dari Morning Celesta ke kapal yang lebih kecil untuk dikirim ke Tanjung Perak Surabaya. Tank-tank ini segera disiapkan untuk parade militer pada ulang Tahun TNI 5 Oktober mendatang di Surabaya, Jawa Timur.(Miranti Hirschmann/Jerman/asp)


  ★ Vivanews  

24 Tank Leopard Pesanan Indonesia Sudah Dikirim dari Jerman

Sebanyak 52 tank Jerman itu akan tiba di Tanjung Priok 28 Agustus 2014 Tank Leopard dikirim dari pelabuhan Bremenhaven, Jerman.Tank Leopard dikirim dari pelabuhan Bremenhaven, Jerman.

Sebanyak 52 tank produksi Rheinmetall Jerman dijadwalkan tiba di pelabuhan Tanjung Priok pada 28 Agustus 2014. Tank yang dikirim, dengan perincian sebanyak 24 MBT Leopard A4 dan 28 Tank Marder.

Kedua jenis tank ini telah diberangkatkan sejak 31 Juli 2014 lalu, dengan kapal kargo berbendera Panama, Morning Celesta, dari pelabuhan Bremenhaven, Jerman.

Rencananya, setibanya di pelabuhan Tanjung Priok, tank-tank ini akan dipindahkan dari Morning Celesta ke kapal yang lebih kecil untuk dikirim ke Tanjung Perak Surabaya.

Tank-tank ini segera disiapkan untuk parade militer pada ulang Tahun TNI 5 Oktober mendatang di Surabaya.

Mengejar target parade militer, durasi pengerjaan tank tersebut dipercepat dari 12 bulan menjadi delapan bulan, sehingga sejumlah bagian dari tank ini belum usai dikerjakan.

Atase Pertahanan KBRI Berlin, Kol. (Pnb) Samsul Rizal terus memonitor produksi dan pengiriman alutsista pesanan Kementrian Pertahanan tersebut. Dia mengatakan bahwa sistem komunikasi dan sistem pendingin 24 MBT Leopard akan dikerjakan di Indonesia.

"Pengerjaan tersebut sesuai dengan perjanjian ToT (Transfer of Technology) antara Indonesia dan pihak Rheinmetall," kata dia kepada VIVAnews di Jerman.

Menggandeng Rheinmetall, PT Pindad akan dilibatkan dalam melengkapi sistem pendingin dan sistem komunikasi tank tank tahap pertama ini.(Miranti Hirschmann/Jerman/asp)


  ★ Vivanews  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...